Tampilkan postingan dengan label Sumber Daya Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumber Daya Alam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Februari 2012

Bagaimana Asal Mula Air di Bumi ?

Asal muasal air di planet kita, yang meliputi hingga 70 persen dari permukaan Bumi masih misterius bagi para ilmuwan. Banyak yang berpendapat bahwa air tidak muncul bersamaan dengan terbentuknya Bumi, namun objek dari angkasa yang mengantarkannya ke planet kita.

Diperkirakan, kalau air datang bersamaan dengan terbentuknya planet Bumi pada 4,5 miliar tahun lalu, ia kemungkinan besar sudah menguap karena panasnya Matahari yang ketika itu masih muda. Artinya, air kemungkinan datang dari tempat lain.

Planet-planet dalam (Merkurius, Venus, Mars) juga ketika tata surya baru mulai dibentuk, masih terlalu panas untuk menyimpan air. Jadi, kemungkinan air di Bumi juga tidak datang dari sana. Namun, planet-planet dan benda-benda angkasa lain seperti bulan-bulan milik Jupiter, komet, dan lain-lain cukup jauh dari Matahari hingga memungkinkan untuk punya es.

Selama periode sektar 4 miliar tahun lalu, yang disebut dengan periode Late Heavy Bombardment, objek raksasa, kemungkinan datang dari luar tata surya, menghujani Bumi dan planet-planet dalam lainnya. Ada kemungkinan bahwa objek-objek ini dipenuhi oleh air. Tabrakan Bumi dengan objek-objek inilah yang membuat planet kita dipenuhi air.

Lalu, objek apa yang mengantarkan air?

Untuk beberapa lama, astronom memperkirakan bahwa komet, terbuat dari bongkahan es dan batu yang memiliki uapan es di buntutnya yang panjang dan terus-menerus mengitari Matahari, diperkirakan menjadi pelakunya.

Namun demikian, pengukuran jarak jauh terhadap air yang menguap dari beberapa komet besar yang ada saat ini seperti komet Halley, Hyakutake, dan Hale-Bopp mengungkapkan bahwa es yang ada di sana terbuat dari tipe H2O yang berbeda karena mengandung isotop hidrogen yang lebih berat dibanding es yang biasa ada di Bumi.

Artinya, komet-komet ini bukanlah sumber air bagi Bumi.

Dicoretnya komet-komet besar dari daftar tersangka sumber air, astronom kembali mencari petunjuk apakah air yang ada di bumi datang dari sabuk asteroid.

Kawasan yang terdiri dari ratusan ribu asteroid yang mengorbit Matahari di antara planet dalam dan planet luar sebelumnya diyakini terlalu dekat ke Matahari untuk menyimpan air. Namun dari bukti-bukti terbaru, diketahui bahwa ada es di asteroid 24 Themis yang ada di sana.

Temuan ini, dan es di asteroid lain mengindikasikan bahwa kemungkinan ada lebih banyak es di sabuk asteroid dibanding perkiraan sebelumnya. Ini kemungkinan menjadi sumber datangnya air di Bumi.

Saat ini, seperti dikutip dari Life’s Little Mysteries, 14 Juli 2011, satelit pemantau seperti DAWN milik NASA sudah dikirim untuk mengeksplorasi asteroid. Harapannya, dalam beberapa tahun ke depan, kita akan mengetahui lebih banyak seputar es air misterius yang berpotensi membantu kita memahami bagaimana asal muasal air di Bumi.

sumber : vivanews.com

Minggu, 19 Februari 2012

Sumber Daya Alam


 

Eksploitasi Terhadap Sumber Daya Alam

Kutukan sumber daya alam bukan takdir, melainkan pilihan. Eksploitasi terhadap sumber daya alam menjadi suatu bagian globalisasi yang penting saat ini, dan dalam beberapa hal kegagalan dari negara-negara berkembang yang kaya sumber daya menjadi ciri dari kegagalan globalisasi. Negara Barat sangat bergantung pada sumber daya alam yang diperoleh dari negara-negara berkembang. Padahal, insentif jangka pendek untuk kepentingan pribadinya dan lebih khusus lagi, kepentingan industri-industri pengolah sumber daya alam tidak selalu berkaitan dengan kesejahteraan negara-negara berkembang. Tetapi jika kita ingin globalisasi berjalan dalam jangka panjang, negara-negara berkembang dan penduduknya harus mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Untunglah, terdapat juga keberhasilan yang memberi kita alasan untuk lebih optimistis bahwa globalisasi dapat berjalan dengan baik.
Di antara negara-negara maju, Norwegia merupakan contoh yang baik. Minyak meningkatkan PDB-nya hingga 20% dan ekspor hingga 45%. Perusahaan minyak milik negara (sekarang ini sebagian telah diprivatisasi) berjalan efisien. Lebih penting lagi, negara telah menyadari keterbatasan sumber dayanya cadangan minyak dan gas akan habis dalam 70 tahun dan telah menyisihkan keuntungannya dalam dana stabilisasi sebanyak 150 miliar dolar, yang sekarang ini jumlahnya sebesar 50% dari PDB negara tersebut.
Botswana, meskipun baru-baru ini menghadapi ledakan AIDS, tampil sebagai salah satu dari beberapa cerita sukses di negara-negara berkembang, khususnya cara mereka menangani kekayaan berlian mereka. Perekonomian negara meningkat rata-rata 9% selama 30 tahun, menandingi negara-negara “macan” Asia Timur. Hal ini terjadi karena pemerintahan yang demokratis dan bertekad untuk membangun konsensus di antara penduduknya guna menerapkan kebijakan-kebijakan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan ekonomi yang sukses, termasuk juga menggunakan dana stabilisasi untuk menangani konsekuensi dari perubahan harga berlian. Malaysia juga merupakan negara yang kaya sumber daya alam dan menggunakannya sebagai modal dasar untuk bergabung dengan kelompok negara-negara industri yang baru.
Tanggung jawab yang besar untuk mendapatkan sebanyak mungkin manfaat dari sumber daya alam yang mereka miliki dan menggunakannya dengan baik, berada di tangan masing-masing negara itu sendiri. Prioritas utama adalah keharusan untuk membangun institusi yang dapat mengurangi korupsi dan menjamin uang dari hasil sumber daya minyak dan gas diinvestasikan dengan baik. Hal tersebut membutuhkan beberapa peraturan investasi yang tegas dan cepat jumlah tertentu diperuntukkan bagi pengeluaran sektor kesehatan, sebagian lagi untuk pendidikan, dan sebagian lagi untuk infrastruktur. Prosedur evaluasi independen mengenai pengembalian investasi harus dilakukan. Dana stabilisasi sangat penting, tetapi pemerintah hanya diperbolehkan mengeluarkannya dalam situasi yang benar-benar sesuai dan khususnya untuk menolong menstabilkan kondisi ekonomi. Lebih penting lagi, negara-negara berkembang perlu untuk melihat sumber daya alam mereka sebagai warisan, yang dipercayakan pada pemerintahan dan generasi sekarang untuk diberikan kepada generasi mendatang.
Saya yakin, bagaimanapun, komunitas internasional dapat memberikan bimbingan yang lebih daripada sekadar basa-basi pada negara-negara berkembang, sehingga mereka dapat menimba ilmu tentang bagaimana menggunakan sumber daya alam mereka dengan lebih baik. Lebih efektif lagi, pemerintah negara maju dapat memberikan role model, memberikan saran dan bimbingan dalam mengubah insentif dan kesempatan, dan melakukan upaya sebisa mungkin untuk mengawasi dorongan untuk melakukan korupsi yang sering datang dari negara maju.

Pustaka-Sumber Daya Alam

Making Globalization Work Oleh JOSEPH E. STIGLIZ

Kamis, 05 Januari 2012

Mengenal Jenis-jenis Batu Bara


Jual Batu Bara – seperti yg telah kita ketahui bahwa Batu bara adalah bahan bakar fosil. Batu bara dapat terbakar,terbentuk dari endapan, batuan organik yg terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batu bara terbentuk dari tumbuhan yg telah terkonsolidasi antara strata batuan lainnya dan diubah oleh kombinasi pengaruh tekanan dan panas selama jutaan tahun sehingga membentuk lapisan batu bara.


Dalam pasar batu bara juga terbagi menjadi beberapa kelas yg nanti akan menentukan harga jual batu bara tersebut


Tipe-tipe Batu Bara
Tingkat perubahan yg dialami batu bara, darigambut sampai menjadi antrasit – disebut sebagai pengarangan – memiliki hubungan yg penting dan hubungan tersebut disebut sebagai ‘tingkat mutu’ batu bara.

Batu bara dgn mutu yg rendah, seperti batu bara muda dan sub-bitumen biasanya lebih lembut dgn materi yg rapuh dan berwarna suram seperti tanah. Baru bara muda memilih tingkat kelembaban yg tinggi dan kandungan karbon yg rendah, dan dgn demikian kandungan energinya rendah.

Batu bara dgn mutu yg lebih tinggi umumnya lebih keras dan kuat dan seringkali berwarna hitam cemerlang seperti kaca. Batu bara dgn mutu yg lebih tinggi memiliki kandungan karbon yg lebih banyak, tingkat kelembaban yg lebih rendah dan
menghasilkan energi yg lebih banyak. Antrasit adalah batu bara dgn mutu yg paling baik dan dgn demikian memiliki kandungan karbon dan energi yg lebih tinggi serta tingkat kelembaban yg lebih rendah

Rabu, 28 Desember 2011

Mengenal Gas Alam Padat


Pernahkan kita bayangkan, kita mengeluarkan beberapa bongkahan es dari lemari es, kemudian kita nyalakan api dari bongkahan es tersebut untuk memanaskan secangkir kopi hangat di pagi hari? Tidak lama lagi kita akan melakukan hal itu. Bongkahan itu bukan sembarang es, tetapi es yang didalamnya berisi gas alam yang telah dipadatkan, yang dalam bahasa ilmiahnya disebut gas alam padat atau hidrat gas alam (natural gas hydrateatau NGH). NGH adalah kristal es yang terbentuk dimana lapisan es menutupi molekul gas yang terjebak didalamnya.
NGH stabil pada tekanan tinggi dan suhu rendah, dan terjadi secara alami di dasar laut yang bertekanan tinggi dan bersuhu rendah pada kedalaman 150-2000 meter dibawah permukaan air laut. Eksplorasi NGH dari dasar laut masih memerlukan 30-40 tahun untuk menjadi ekonomis, yaitu pada saat cadangan energi fosil telah habis. NGH juga terjadi sebagai problem pada pipa saluran gas alam bertekanan tinggi didaerah yang dingin. Terbentuknya NGH dapat menghambat aliran gas pada pipa. Pada saat ini penelitian NGH banyak dilakukan sebagai alternatif sistem pengangkutan dan penyimpanan gas alam, yang selama ini didominasi oleh sistem pemipaan dan gas alam cair (liquefied natural gas, LNG)
Metode pemipaan sangat efisien untuk transportasi dalam jarak yang tidak begitu jauh. Semakin jauh jarak yang akan di tempuh, pemipaan semakin tidak ekonomis. Pemipaan dilakukan dengan menyalurkan gas alam bertekanan 700-1100 psig melalui pipa. Rata-rata biaya pemipaan adalah 1-5 USD per miles, tergantung dari kondisi daerah tempat ladang minyak berada dan daerah yang akan di lewati pipa. Pemipaan diatas 200 miles saat ini dianggap tidak ekonomis, walaupun demikian, pemipaan diatas 2000 mile saat ini sedang ditenderkan untuk transportasi gas alam dari Timur Tengah ke Pakistan dan India, juga dari Venevuela ke Amerika.
Metode pencairan dilakukan dengan mendinginkan gas pada suhu -162oC. Volume gas cair setara dengan 600 kali dari volume gas pada suhu ruang. Walaupun demikian ongkos LNG masih mahal yaitu USD 15 untuk gas dengan jumlah setara 1 barel minyak bumi. Sistem LNG membutuhkan instalasi yang rumit dan pendingin khusus untuk transportasinya. Sistim ini banyak di gunakan untuk transportasi jarak jauh. Pembangunan sistem LNG semakin murah sejak 25 tahun terakhir setelah ditemukan kemajuan besar dalam efisiensi termodinamika sehingga LNG menjadi pilihan utama transportasi gas alam di dunia. Investasi LNG membutuhkan biaya yang sangat mahal, sekitar 1 milyar USD untuk memproduksi 0.5 milyar kaki kubik per hari.
Transportasi gas dapat juga dilakukan dalam kontainer bertekanan tinggi, sekitar 1800 psig s/d 3600 psig. Biaya investasi yang CNG lebih rendah dari LNG sehingga CNGmolekul-NGH lebih cocok untuk ladang gas dengan kapasitas kecil. Kelemahan system CNG diantaranya: memerlukan kapal khusus dengan container bertekanan untuk mengangkut CNG dan pompa besar serta waktu yang lama untuk pengisian gas sampai bertekanan 3000 psig. Teknologi ini sedang dipertimbangkan oleh Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai sistem transportasi untuk dsitribusi gas alam di Indonesia.
Dalam sistem gas alam padat, NGH diproduksi dari percampuran gas alam dengan air untuk membentuk kristal es. Gas alam padat terjadi ketika beberapa partikel kecil dari gas seperti metana, etana, dan propana, menstabilkan ikatan hidrogen dengan air untuk membentuk struktur sangkar 3 dimensi dengan molekul gas alam terjebak dalam sangkar tersebut.? Sebuah sangkar terbuat dari beberapa molekul air yang terikat oleh ikatan hidrogen. Tipe ini dikenal dengan nama clathrates. Gas alam padat diperkirakan akan menjadi media baru untuk penyimpanan dan transportasi gas, sebab memiliki stabilitas yang tinggi pada suhu dibawah 0oC pada tekanan atmosfer. Kestabilan tersebut disebabkan lapisen es yang terjadi pada saat hidrat terurai (terdisosiasi), lapisan es tersebut menutupi hidrat dan mencegah penguraian lebih lanjut. NGH lebih padat dari gas alam, 1 meter kubik NGH setara dengan 170 meter cubic dari gas alam pada tekaan 1 atm, pada suhu 25oC.
Sistem gas alam padat meliputi 3 step yaitu, produksi, transportasi dan gasifikasi ulang. Investasi yang digunakan untuk membangun sistem gas alam padat jauh lebih murah dari pada gas alam cair. Dengan sistem gas alam padat, ladang-ladang minyak dengan kapasitas kecil yang tidak memungkinkan diekploitasi dengan sistem gas alam cair dapat dimanfaatkan.
Saat ini cadangan gas alam yang dimiliki Indonesia diperkirakan sebesar 134,0 triliun kaki kubik (TCF) yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Tengah, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Natuna, Sulawesi Selatan, dan Papua. Meski cadangan sangat besar, kemampuan untuk memproduksi gas tersebut masih sangat terbatas sehingga Indonesia setiap tahun hanya memproduksi gas sekitar 3 TCF. Poduksi gas alam tercatat sebesar 8,6 miliar kaki kubik per hari, dimana 6,6 miliar kaki kubik dari produksi tersebut digunakan untuk ekspor dan sisanya sebesar 2,0 miliar kaki kubik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yaitu untuk keperluan fertilizers, refinery, petrochemicals, LPG domestik, PGN, PLN, dan industri lainnya. Penerimaan negara dari gas alam rata-rata sebesar 10% dari total penerimaan negara, dan 80% dari jumlah tersebut berasal dari ekspor. Saat ini sebanyak 80% ladang gas dengan kapasitas cadangan kecil yang belum dimanfaatkan secara optimal, karena kendala sistem transportasinya. Dengan system tranportasi NGH diharapkan kita mampu memanfaatkan ladang gas kita dengan optimal. Dan sebentar lagi, memanaskan secangkir kopi hangat dengan menyalakan bongkahan es tidak hanya ada dalam bayangan saja.

Bahan Bakar Bio


Tiga Macam Bahan Bakar Bio

Untuk memanfaatkan energi biomassa atau energi bio, ada tiga cara yang amat populer.7
Pertama, pembakaran langsung (direct combustion) dalam bentuk pemanfaatan panas. Pemanfaatan panas biomassa dikenal sejak dulu, seperti pemanfaatan kayu bakar. Pemanfaatan yang cukup besar umumnya untuk menghasilkan uap pada pembangkitan listrik atau proses manufaktur. Dalam sistem pembangkit, kerja turbin biasanya memanfaatkan ekspansi uap bertekanan dan bertemperatur tinggi untuk menggerakkan generator. Pada industri kayu dan kertas, serpihan kayu terkadang langsung dimasukkan ke boiler agar menghasilkan uap untuk proses manufaktur atau menghangatkan ruangan. Beberapa sistem pembangkit bahan bakar batu bara menggunakan biomassa sebagai sumber energi tambahan dalam boiler efisiensi tinggi untuk mengurangi emisi. Yang paling penting, ketika dibakar, bahan bakar bio tidak menghasilkan karbondioksida yang lebih besar jika dibiarkan meluruh secara alami sehingga penggunaannya tidak memberikan sumbangan bersih pada pemanasan global atau efek gas rumah kaca.
Kedua, pemanfaatan gas biomassa. Pemanfaatan bahan bakar gas biomassa skala kecil yang banyak diaplikasikan oleh masyarakat adalah pemanfaatan gas metana hasil fermentasi yang langsung dibakar untuk dimanfaatkan panasnya. Teknologi yang banyak dikenal adalah digester biogas. Pada skala yang lebih maju serta berskala besar dan massal, pemanfaatan gas biomassa dilakukan melalui sistem gasifikasi menggunakan temperatur tinggi untuk mengubah biomassa menjadi gas (campuran dari hidrogen, CO, dan metana).
Ketiga, konversi menjadi bahan bakar Gain. Dua bahan bakar bio yang paling umum dari hasil proses ini adalah bioetanol dan biodiesel. Saat ini keduanya menjadi idola. Bioetanol merupakan alkohol yang dibuat dengan fermentasi biomassa. Fermentasi dapat dilakukan pada bahan berpati, misalnya singkong, biji jagung, biji sorgum, gandum, sagu, dan kentang; bahan bergula, di antaranya molases (tetes tebu), nira tebu, nira kelapa, batang sorgum manis, nira aren (enau), nira nipah, nira gewang, dan nira lontar; dan bahan berselulosa, misalnya limbah pertanian berupa jerami padi, ampas tebu, jonggel (tongkol) jagung, onggok (limbah tapioka), batang pisang, atau dari serbuk gergaji (grajen), limbah logging, dan lain-lain. Bioetanol paling sering digunakan sebagai aditif bahan bakar untuk mengurangi emisi karbon monooksida (CO) dan asap lainnya dari kendaraan. Biodiesel merupakan ester yang dibuat menggunakan minyak tanaman, lemak binatang, ganggang, atau bahkan minyak goreng bekas. Biodiesel dapat digunakan sebagai aditif diesel untuk mengurangi emisi kendaraan atau dalam bentuk murninya sebagai bahan bakar kendaraan.